Tips and Trick

Emm… Tes IELTS Ituuuu…….

ielts-registration-39516

Tulisan ini saya dedikasikan buat berbagi cerita soal tes IELTS yang saya ambil Desember 2017 lalu. Banyak yang tanya gimana sih tes IELTS itu, apa aja yang dibutuhin, perlu les khusus gak buat bisa ikut tes itu. Well, semua pertanyaan tadi juga sempat masuk di otak saya bahkan menjelang tes. Saya akan coba berbagi pengalaman dari mulai persiapan sampai selesai tes dan terima hasil akhirnya.

Semoga tulisan ini cukup membantu buat kalian yang lagi cari informasi buat tes IELTS ya…

1. PERSIAPAN
Tahap ini bener-bener saya lakukan dalam waktu yang amat sangat singkat. Bahkan kurang dari dua bulan sebelum tes. Alasannya sepele, karena awalnya saya sudah menyerah untuk ikut beasiswa dan enggan ‘belajar’ lagi. Tapi karena masih ada rasa penasaran dan akhirnya menantang diri sendiri untuk coba lagi, akhirnya hitung mundur untuk persiapan beasiswa pun dimulai.

Tahap pertama yangsaya lakukan untuk persiapan tes adalah ikut kursus persiapan di EF (atau di lembaga manapun yang menyediakan). Pilihan ke EF karena di kota saya cuma itulah satu-satunya lembaga pengajaran bahasa asing yang menurut saya cukup kredibel. Saya

mengambil paket 6 bulan persiapan IELTS, yang isinya benar-benar sangat bermanfaat buat ngasi tips and trick buat menjawab soal2 IELTS.

Di EF (ini bukan promosi lo ya) tips mengerjakan soal mulai dari listening test, writing test, reading test, dan speaking test benar-benar dikupas tuntas. Menurut saya, tidak rugi untuk ikut kelas persiapan ini sebelum memutuskan untuk tes. Soalnya, biaya tes IELTS tergolong mahal, sekitar Rp2,8 juta. Gak mau kan kalo udah bayar mahal ternyata hasil tesnya kurag dari target dan mesti tes ulang.

Selain ikut kelas persiapan IELTS, saya juga lumayan ‘memaksa’ diri untuk mengerjaan beberapa soal-soal tes sebelumnya. Bahan-bahan banyak saya pelajari dari buku Cambridge University dan juga dari ieltsliz.com. Percayalah, semakin sering latihan soal yang benar-benar dikondisikan dengan suasana tes, bakal bikin kepercayaan diri cukup meningkat loh.

2. TES IELTS
Saya melakukan tes IELTS kira-kira dua bulan setelah mengikuti kelas persiapan. Bukan merasa sudah mampu atau terlalu PD, tapi karena ada beberapa beasiswa yang saya incar dan tenggat waktunya sudah cukup dekat. Jadi saya meyakinkan diri untuk segera tes.

Saya mengambil tes di IALF Bali. Awalnya saya berencana untuk ikut tes yang diadakan di Mataram, tetapi atas saran dari beberapa teman yang pernah mengikuti tes di lokasi tersebut, kondisi audio untuk proses tes listening kurang memadai dan akan mempengaruhi proses mengerjakan soal.

Proses mendaftar untuk tes IELTS dilakukan secara online dengan melampirkan beberapa persyaratan seperti KTP/Paspor. Pastikan identitas yang kita pakai saat mendaftar sama dengan identitas yang kita bawa pada saat mengikuti tes. Karena petugas akan mengecek kelengkapan tersebut. Pendaftaran bisa dilakukan di http://www.ielts.org.

Tes dimulai sekitar pukul 9 pagi. Tetapi, peserta diminta untuk sudah berada di lokasi pada pukul 8, karena akan diadakan pengambfoto dan sidik jari untuk keperluan tes. Hanya alat tulis yang akan digunakan yang boleh masuk ke dalam ruangan. Itupun harus diletakkan dalam tempat pensil bening yang telah disiapkan petugas. Bungkus penghapus dari kertas dan label air minum botol kemasan pun dicopot oleh petugas sebelum dibawa masuk ke dalam ruangan tes.

Pastikan memakai pakaian yang nyaman, karena kondisi ruangan tes biasanya cukup dingin dan hal tersebut bisa mempengaruhi kondisi dan konsentrasi saat mengerjakan soal.

Tes pertama diawali oleh tes listening dan peserta tidak diperkenankan keluar dari ruangan selama tes ini berlangsung. Peseta bisa bebas menuliskan informasi di kertas soal dan memiliki waktu 10 menit diakhir tes untuk memindahkan jawaban ke lembar jawab yang telah disiapkan.

Tes selanjutnya adalah tes membaca yang berisi 40 soal. Makin besar nomor soal, bacaan yang disajikan semakin panjang dan soal yang diberikan semakin sulit. Jadi usahakan untuk memaksimalkan jawaban pada nomor-nomor kecil. Tes ini berlangsung selama 60 menit dan peserta diperkenankan untuk meninggalkan ruangan sepert untuk ke kamar mandi, tetapi tidak ada penambahan waktu.

Selesai tes membaca, dilanjutkan dengan tes menulis yang berisi dua pertanyaan. Tes menulis bagian satu biasanya berupa data dan kita dimina untuk memaparkan data tersebut menjadi sebuah tulisan dengan batasan minimal 150 kata. Pada tes kedua, biasanya pertanyaan berupa pendapat dan argumen kita. Untuk soal in kita harus bisa memberikan pendapat dan argumen yang mendukung ide dalam menjawab soal yang diajukan. Tulisan yang dibuat minimal 250 kata. Pastkan untuk memberikan perhatian yang lebih pada soal ini karena tes kedua ini memliki bobot yang lebih besar dibanding tes pertama.

Finally, sampailah pada tes terakhir yaitu tes berbicara atau speaking. Ini adalah bagian tes yang paling saya takuti. Saya merasa, cara saya berbicara masih tergagap2 walaupun dalam bahasa Indonesia. Jadi saya cukup deg-degan untuk melewati tahap ini.

Pada tes speaking, interviewer akan merekam percakapan kita dan juga akan memeriksa identitas yang kita miliki. Tahap awal biasanya kita akan diminta untuk menjelaskan seputar diri kita selama sekitar dua menit. Selanjutnya, interviewer akan memberikan sebuah topik dan beberapa pertanyaan dalam selembar kertas. Kita diijinkan untuk membuat catatan pada selembar kertas yang diberikan. Catatan ini berisi poin-poin yang akan kita paparkan dalam proses tes. Waktu yang diberikan kira-kira sekitar dua menit. Setelah itu, kita akan diarahkan untuk memberikan pendapat tentang topik pada tes sebelumnya.

Dan…. SELESAAAAIIII. Saatnya deg-degan menunggu hasil yang akan keluar setelah dua minggu.

3. HASIL TES
Setelah dua minggu, hasil tes bisa dicek secara online dengan memasukkan nomor tes kita. Hasil ini sayangnya tidak bisa digunakan untuk mengajukan beasiswa. Untuk mengajukan beasiswa, haruslah menggunakan hasil yang dikirimkan ke alamat yang disertakan waktu mendaftar.

IALF juga menyediakan layanan untuk mengirimkan hasil tes kepada lembaga penyelenggara beasiswa / universitas sampai dengan lima buah. Kita hanya tinggal mengganti biya ongkos kirim saja.

OVERALL
Jujur saja, saya tidak terlalu berekspektasi tinggi untuk hasil dari tes IELTS ini. Kondisi pada saat listening test yang sempat ‘blank’ membuat saya tidak yakin bisa mendapatkan hasil yang optimal pada bagian ini. Begitupun dengan tes speaking. Tapi, saya cukup merasa yakin dengan hasil dari tes membaca dan menulis. Yah, apapun yang terjadi, saya pasrahkan saja kepada Tuhan.

DAAAAANNNN…..
Begitu hasil keluar, band score saya di atas yang saya targetkan. Memang tidak tergolong tinggi, tapi saya cukup terkejut dengan nilai-nilai yang saya dapatkan. Hasil tes listening saya memang paling rendah, tetapi saya sudah menyadarinya dari awal. Hasil tes reading dan speaking saya benar-benar diluar target yang saya duga.

Kira-kira seperti inilah kemampuan bahasa Inggris kita jika dikonversikan dari nilai IELTS yang kita peroleh.

img003.jpg

Saya yang awalnya sempat jiper dengan hasil IELTS dan kondisi bahasa Inggris saya yang pas-pasan, sekarang cukup percaya diri untuk mulai memilah-milah beasiswa yang akan saya ajukan. Tapi saya masih berniat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yang saya miliki dan masih berharap nilai IELTS atau tes bahasa Inggris saya yang berikutnya bisa lebih baik.

Sekian post kali ini dari saya….
Apabila ada pertanyaan dan tambahan informasi bisa disampaikan lewat kolom komentar yaaa….

Semoga tulisan ini bermanfaat…
dan sampai jumpa di tulisan berikutnya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s