KPOP

Curhatan Hati Kpopers Abal-abal

Kpop-logos

Kalau kamu gak suka sama satu hal, jangan sampai benci-benci banget. Lama-lama benci bisa jadi suka lo. Kira-kira pelajaran seperti itu yang saya dapat sebelum saya kenal dengan yang namanya K-Pop.

Awalnya saya suka ‘ngece’ atau ngejek adik saya, Ria, yang suka nonton drama Korea sama nyetel lagu dengan bahasa antah berantah itu di rumah. Saya yang saat itu masih doyan nonton drama koko-koko sama cece-cece Taiwan jelas aja ngerasa aneh. Secara bahasanya aja gak familiar, tampang-tampang pemainnya apalagi. Pas itu artis Korea yang saya tau cuman BoA. Itu pun gara-gara dia nyanyi OST buat MVP Lover, salah satu drama Taiwan (Oh men ini sih ketauan umurnya-__-“). Drama Korea yang saya tau juga cuman Winter Sonata sama Endless Love plus Full House. Jangan tanya yang lain, karena gak bakal paham pas jaman itu… hahaha

Semua berubah pas saya kuliah. Saya lupa perkenalan dan PDKT saya dengan Kpop dan KDrama ini dimulai sejak kapan, yang jelas sampai sekarang mereka ini jadi senjata andalan saya buat menghabiskan waktu ‘me time’, hemat kan hahaha! Sekarang bahkan saya jadi lebih heboh soal Korea daripada adik saya. Gilak! Saya niatin belajar bahasa Korea, niatin download album, MV sama drama baru (fans kere), sampe niatin cari beasiswa ke Korea (yang ini sih belom kesampean dan masih jadi cita-cita).

Saya gak bakal panjang-panjang bahas tentang gimana saya jatuh cinta sama Korea dan masih masang negeri ginseng ini sebagai cita-cita studi lanjut saya (kalo ada kesempatan). Yang pengen saya share adalah bagaimana teman-teman non Kpopers atau non Kdramalovers bisa memahami dan tidak menjudge kami wasting time dan doing nothing at all with our bias.

We are doing something!
Suka Korea bisa saya ibaratkan sama dengan suka bola. Teman-teman pecinta bola memiliki fanclub sendiri untuk tim kesayangannya. Begitu juga kami yang cukup happy hanya dengan nonton MV terbaru grup idola. Kami juga punya fanclub yang tidak hanya hura-hura kumpul-kumpul tanpa jelas arahnya. Beberapa fanclub ada yang membuat acara gathering charity dengan mengatasnamakan grup/artis idola mereka.

We are not wasting time (and money)
Banyak yang beranggapan fans Kpop itu buang-buang waktu dan juga uang untuk bisa menikmati konser, album baru, jalan-jalan ke Korea. Ya, itu memang benar! Kami berusaha support idola kami dengan cara seperti itu. Karena kami tau perjuangan mereka buat debut tidaklah mudah. Bahkan, sudah debut pun kadang masih ada idol yang gagal dan akhirnya disbanded. Tapi, dengan semangat mendukung idola kami, ide kreatif pun muncul, setidaknya untuk mendapatkan dana segar (bahasa lu, Ka! haha!). Misalnya dengan jualan merchandise kpop, jualan makanan ala2 korea, buka PO make up, dan lain-lain. Itu mendatangkan uang kan? Bukan menghabiskan uang kan? Kalau saya pribadi lebih memilih get something dari Kpop dengan cara belajar bahasa Korea. Saya memandang, harus ada timbal balik yang bisa Kpop berikan kepada saya, jadilah saya belajar bahasanya (sedikit2 sih bisa, kalau hanya sekedar annyeonghaseo, haha)

Belajar dari Korea Selatan
Kalau bagian ini kayaknya agak berat deh. Tapi setidaknya saya mencoba membuka mata dengan fenomena yang terjadi saat ini. Seperti yang ditulis Kompas.com pada 2016 lalu setidaknya 300 ribu orang Indonesia melancong ke Korea Selatan. Setidaknya efek KWave atau Hallyu ini benar-benar berdampak bagi ekonomi Korea Selatan dari sisi pariwisata. Bahkan Korea Selatan tidak segan-segan membangun KStar Road di daerah Gangnam sebagai salah satu spot bagi wisatawan yang suka dengan artis dan grup idola Korea. Lantas, apakah budaya Korea Selatan hilang dengan kedatangan sekitan banyak wisatawan asing? Saya rasa tidak! justru wisatwan asing banyak yang tertarik untuk memahami budaya Korea seperti memakai Hanbok atau sekedar merasakan tidaur di Hanok rumah trandisional Korea.

Saya pernah ngobrol dengan salah satu teman yang juga penggemar Korea, Hanna. Hanna yang seorang jurnalis sempat kepo dengan alasan promotor yang sering dianggap ‘nekat’ mendatangkan artis Korea dengan solo concert. Padahal, menurutnya, artis/grup barat pun terkadang didatangkan dengan konsep festival. Sayangnya, rasa kepo saya dan Hanna belum sempat terjawab lantaran kami belum memiliki kesempatan untuk liputan lebih lanjut tentang hal tersebut.

Begitulah kira-kira curhatan saya. Maafkan seandainya ada pihak yang tidak sepakat dengan apa yang saya pikir dan rasakan. Intinya, jangan menjudge dari covernya aja ya, nanti malah jatuh cinta. Hahaha!

Sekian,
Salam Koreak!

kpop1

PS : Bakal saya update lagi kalau ada uneg2 baru soal Kpop.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s